Senin, 15 Oktober 2018

Manajemen SDM Bisnis Ritel

Modul Mapel Pengelolaan Bisnis Ritel
Prodi Bisnis Daring dan Pemasaran SMKN 1 Pamekasan
KD3.2
KD.4.2


Sebelum mempelajari bab 3, jawablah pertanyaan berikut!
1.       Mengapa perusahaan ritel perlu meningkatkan SDM atau karyawannya!
2.       Sebutkan 3 hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan SDM perusahaan ritel!
3.       Sebutkan aspek – aspek yang terkait dengan pengelolaan SDM perusahaan ritel!

BAB III : ASPEK SDM DALAM BISNIS RITEL

·         Tujuan pengelolaan SDM adalah agar karyawan produktif.
1.       Cara mengukur produktivitas karyawan yaitu dengan membandingkan jumlah penjualan+keuntungan dengan jumlah karyawan.
2.       Cara meningkatkan produktivitas adalah dengan :
a.       Menaikkan jumlah penjualan
b.      Mengurangi karyawan
c.       Menaikkan penjualan sekaligus mengurangi karyawan
·         Hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan SDM:
1.       Perhitungan biaya tenaga kerja menunjang efisiensi biaya operasional
2.       Kemahiran karyawan (keramahan menyambut dan memberi informasi kepada pembeli, keahlian memajang barang dagangan dan menyeleksi barang dagangan) merupakan fungsi utama kegiatan ritel
3.       Kinerja operasional ritel terpangaruh oleh pengelolaan SDM yang pada akhirnya menjadi pembeda (ciri khas) ritel yang sulit ditiru pesaing
·         Aspek – aspek yang terkait dalam pengelolaan SDM meliputi:
1.       Struktur ogranisasi
-          Struktur organisasi menentukan efektivitas organisasi perusahaan
-          Struktur organisasi terlihat dalam 4 macam bagan organisasi:
a.       Organisasi fungsional
b.      Organisasi berdasar produk
c.       Organisasi berdasar geografis
d.      Organisasi kombinasi
2.       Bentuk organisasi
a.       Organisasi ritel tunggal (single store)
b.      Organisasi ritel regional (department store)
c.       Organisasi ritel terpusat
3.       Motivasi karyawan
-          Dilaksanakan dengan mendasarkan pada 4 metode:
a.       Kebijakan tertulis (agar karyawan bekerja tidak bingung)
a.1 sebagai dasar pelaksanaan karyawan
a.2 sebagai dasar pengawasan karyawan
b.      Pemberian insentif
- untuk memotivasi karyawan agar bekerja lebih giat.
- bentuk insentif yatiu komisi dan bonus. komisi = kompensasi yang didasarkan pada rumusan yang ditetapkan perusahaan. bonus = kompensasi tambahan yang diberikan perusahaan secara periodik
c.       Membangun budaya organisasi
-       Membangun kebiasaan karyawan agar mempunyai kinerja sesuai dengan yang diharapkan.
d.      Membangun komitmen karyawan
-  Beberapa pendekatan ritel membangun komitmen karyawan:
1.       mengembangkan keterampilan karyawan melalui seleksi dan pelatihan
2.       mengikut sertakan karyawan dalam membuat keputusan
3.       menjalin kemitraan dengan karyawan
sebelum mempelajari bab 5. Jawablah pertanyaan dibawah ini!
1.       Mengapa penentuan lokasi penting bagi kegiatan bisnis ritel!
2.       Sebutkan 3 cara penentuan lokasi bisnis ritel!
3.       Sebutkn data yang diperlukan dalam penentuan lokasi bisnis ritel!
4.       Sebutkan faktor yang mempengaruhi permintaan suatu wilayah atau area perdagangan ritel
5.       Jelaskan aksesibilitas
6.       Jelaskan dan bedakan zona area perdagangan ritel!
7.       Sebutkan metode pengukuran permintaan lokasi ritel
8.       Sebutkan tipe – tipe lokasi ritel!

MANAJEMEN BISNIS RITEL

Modul Mapel Pengelolaan Bisnis Ritel (PBR)
Prodi Bisnis Daring dan Pemasaran SMKN 1 Pamekasan
KD.3.2
KD.4.2


BAB II : MANAJEN BISNIS RITEL
A.      Hal yang perlu dipahami sebelum menentukan strategi ritel:
a.    Target pasar ritel
b.    Format ritel
c.     Keunggulan bersaing ritel
B.      Strategi bauran ritel (retail mix):
·      Adalah usaha mengkombinasi komponen / variabel ritel untuk menarik  minat konsumen
·      Komponen ritel mix terdiri dari:
1.    Produk  (barang dagangan)
2.    Harga
3.    Promosi
4.    Pelayanan
5.    Fasilitas fisik
1.       Produk (product mix)
·      Adalah seluruh penawaran yang dilakukan perusahaan kepada konsumen
·      Komponen produk yang harus dipertimbangakan:
a.    Variety (Kelengkapan)
b.    Witdth (Panjang)
c.Depth (Kedalaman)
d.    Consistency (konsistensi)
e.    Balance (keseimbangan)
2.       Promosi
·      Tujuan promosi adalah
·      Kegiatan promosi meliputi :
a.    Iklan
b.    Penjualan langsung
c.     Promosi penjualan
d.    Publik relasi (humas)
3.       Pelayanan
·      Adalah berwujud aktivitas, manfaat, kepuasan dari sesuatu yang ditawarkan atau diberikan kepada pelanggan
·      Jenis – jenis pelayanan dalam bisnis ritel:
a.    Waktu pelayanan toko
b.    Pengiriman dan penyerahan barang
c.     Penanganan keluhan pelanggan
d.    Penerimaan pesanan melalui telp, pos, dan internet
e.    Penyediaan fasilitas parkir
4.       Fasilitas fisik
·         Adalah faktor dominan dalam menghasilkan citra ritel kepada konsumen.
·         Elemen penting dari tampilan fisik adalah:
a.       Lokasi toko
b.      Tata letak toko
c.       Desain toko : eksterior dan interior
C.      Strategi pengembangan keunggulan bersaing berkelanjutan
·         Ada 7 peluang yang harus diperhatikan peritel dalam menghasilkan keunggulan bersaing berkelanjutan, yaitu:
a.       Loyalitas konsumen
b.      Lokasi
c.       Manajemen SDM
d.      Sistem distribusi dan informasi
e.      Barang dagangan yang unik
f.        Hubungan dengan sesama pedagang
g.       Layanan konsumen
D.      Strategi – strategi pertumbuhan bisnis ritel
·         Empat strategi pertumbuhan ritel, yaitu:
a.       Penembusan pasar = usaha menarik konsumen agar berbelanja di toko.
Caranya:
-          untuk pelanggan lama lebih sering berkunjung atau lebih banyak berbelanja dalam sekali kunjungan
-          pelanggan baru beralih belanja ke ritel kita. Caranya dengan merubah pola belanja (daily shopping, weekly shopping, dan montly shopping)
b.      Perluasan pasar = menambah varian produk yang berbeda dalam satu toko ritel
c.       Pengembangan format ritel = dilakukan dengan cara menawarkan format ritel yang baru atau mengabungkan bebeerapa toko ritel yang memiliki pasar sasaran yang sama
d.      Diversifikasi = menjual barang dagangan yang tidak terkait dengan produk yang dijual di toko saat ini
e.      Penyatuan vertikal = integrasi usaha ritel dengan pabrikan.

Pengantar Pengelolaan Bisnis Ritel

Modul Mapel Pengelolaan Bisnis Ritel
Prodi Bisnis daring dan Pemasaran SMKN 1 Pamekasan
KD.3.1
KD.4.1


BAB I
RUANG LINGKUP, PARADIGMA PENGELOLAAN,
DAN PERANAN BISNIS RITEL

A.      Pendahuluan
·         Sebagai negara dengan penduduk terbesar ke 4, dengan jumlah penduduk sekitar 250.000.000 pada tahun 2015  Indonesia memiliki prospek yang sangat baik bagi berkembangnya bisnis ritel.  Pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia banyak dimiliki ritel asing dan tersebar di kota besar saja. Rasio keberadaan supermarket dan hypermarket berbanding total penduduk menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar, dimana satu usaha ritel modern melayani  500.000 jiwa. Pertumbuhan dan perkembangan bisnis ritel berakibat terhadap kebutuhan tenaga kerja , utamanya tenaga kerja yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan bidang bisnis ritel.  Menurut hasil penelitian ILO terhadap 80 negara di dunia, sebanyak 10 -15% rata – rata penduduk bekerja di sektor formal ritel
·         Perkembangan bisnis ritel dipengaruhi oleh tiga faktor: 1. Ekonomi, 2. demografi, 3. Sosial budaya. Faktor ekonomi yang banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan bisnis ritel diantaranya adalah peningkatan income/pendapatan masyarakat sehingga kegiatan konsumsi mengalami peningkatan.  Faktor demografi seperti peningaktan jumlah penduduk, meningkatnya jumlah penduduk golongan menengah (middle income group) . Dan faktor sosial budaya seperti perubahan gaya hidup dan kebiasaan berbelanja  juga turut berpengaruh terhadap perkembangan usaha ritel. Konsumen saat ini menginginkan tempat belanja yang aman, lokasinya mudah dicapai, ragam barang bervariasi sekaligus dapat digunakan sebagai tempat rekreasi

B.      Pengertian ritel
·         Kata ritel berasal dari bahasa Prancis, ritellier, yang berarti memotong, memecah, atau membagi menjadi bagian – bagian yang lebih kecil.
·         Ritel adalah usaha yang terkait dengan upaya untuk menambah nilai produk dan jasa yang dijual langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis
·         Kegiatan ritel menjadi penghubung antara produsen dan konsumen. Peritel  berupaya memenuhi kebutuhan konsumen dengan menyediakan produk pada harga, tempat, dan waktu yang diinginkan konsumen. Sementara bagi produsen, ritel menyediakan pasar produk yang dihasilkanya.
·         Gambar 1.1 Jalur distribusi barang dagangan :

-          Perusahaan/pabrikan = bertugas mendesign, membuat, memberi merk, menetapkan harga, mempromosikan, dan menjual bukan pada konsumen akhir
-          Wholesaler/pedagang besar = melakukan pembelian, stocking, promosi, penjualan, pengiriman, pembayaran ke produsen, tidak menjual langsung ke konsumen akhir
-          Ritel = pembelian, stocking, promosi, penjualan ke konsumen akhir, dan tidak menghasilkan produk

C.      Paradigma ritel tradisional dan modern
·         Ritel tradisional menekankan pada pengelolaan usaha yang bisa disiapkan oleh pengusaha tapi kurang fokus pemenuhan kebutuhan pelanggan. Sedangakn Ritel modern menggelola bisnis ritel berdasarkan konsep pengelolaan yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan konsumen yang menjadi pasar sasarannya.
·         Perbedaan bisnis ritel tradisional dan modern
Ritel Tradisional
Ritel Modern
Kurang mempertimbangkan lokasi
Pemilihan lokasi sangat penting
Tidak mempertimbangkan potensi pembeli
Potensi pembeli diprediksi dan dievaluasi
Jenis barang dagangan tidak terarah
Jenis barang dagangan terfokus dan disesuaikan dengan target pasar
Kurang memperhatikan pemasok
Ketat melakukan seleksi terhadap pemasok
Tidak ada seleksi merk
Seleksi barang dagangan ketat
Pencatatan penjualan sederhana
penjualan dicatat dan dipelajari
Keuntungan per produk tidak dievaluasi
Keuntungan per produk dievaluasi untuk menetapkan strategi bauran ritel
Melayani hutang
Penjualan tunai atau dengan credit card
Kurang memperhatikan efisiensi
Sangat memperhatikan efisiensi
Arus kas tidak terencana
Arus kas sangat terencana
Keuangan tercampur dengan keuangan keluarga
Kuangan terpisah jelas dengan keuangan keluarga
Penbembangan bisnis tidak terencana
Pengembangan bisnis terencana

D.      Fungsi – fungsi yang diperankan bisnis ritel
·         Menyediakan berbagai produk dan jasa
·         Memecah produk sesuai dengan kebutuhan konsumen
·         Menyimpan persediaan
·         Menghasilkan jasa
·         Meningkatkan nilai produk dan jasa


Pertanyaan
1.       Mengapa perlu mempelajari bisnis ritel!
2.       Jelaskan inti pengertian bisnis ritel!
3.       Berdasarkan tayangan ini, sebutkan dan jelaskan perbedaan bisnis ritel tradisional dan modern!










E.       Karakteristik dan klasifikasi bisnis ritel
·         Klasifikasi bisnis ritel berdasarkan 3 karakteristik berikut:
1.       Berdasarkan unsur – unsur  yang digunakan ritel untuk memuaskan kebutuhan konsumen
a.       Jenis barang dagangan yang dijual.
b.      Perbedaan dan keanekaragaman barang yang dijual.
c.       Tingkatan layanan konsumen
d.      Harga barang dagangan
2.        Berdasarkan sarana atau media yang digunakan
a.       Mengunakan toko
b.      Dan non toko
3.       Berdasarkan kepemilikan
a.       Pendirian toko tunggal atau mandiri
b.      Rangkaian perusahaan
c.       Waralaba

Rabu, 08 Maret 2017

POTRET KUSAM : USWAH DAN KENAKALAN REMAJA


Kenakalan yang Memprihatinkan
‘Makin marak, Remaja kena penyakit kelamin.” Begitu  satu petikan judul rubrik kesehatan, di lembar metropolis, Jawa Pos , tanggal 13/01/2016. Lebih lanjut dr. Dwi Murtiastutik, SpKK, ketua Divisi Infeksi Menular Seksual bidang kedokteran kulit dan kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya memaparkan bahwa penderita infeksi menular seksual (IMS) tidak lagi didominasi orang dewasa. Setiap hari, rata – rata ada 3 pasien muda (siswa SMP dan SMA) yang datang kepadanya. Data di RSUD Dr. Soetomo, menunjukkan setidaknya ada lebih dari 30 pasien muda yang berobat gara – gara IMS. Bagaimana dengan yang tidak berobat. Tidakkah kasus ini seperti gundukan gunung es?. Jawabannya, jangan serahkan pada rumput yang bergoyang!
Sekelumit petikan warta jawa pos diatas, mungkin bukanlah berita asing yang sampai ke telinga kita. Akhir – akhir ini, berita seputar tauran antar pelajar, siswa yang tertangkap sedang menikmati narkoba, atau  kerap terjerembab dalam kubangan kejahatan,  pencurian dan pemalakan yang pelakukanya tak lain dan tak bukan melibatkan remaja (baca: anak sekolahan) kian intens  menghiasi layar kaca televisi, pemberitaan radio, ataupun surat kabar. Bahkan dalam keseharian kita, peristiwa semacam diatas yang tak tertangkap oleh pemberitaan media, melalui berita lisan dan kasak – kusuk banyak terdengar. Semua bentuk – bentuk perilaku ini merupakan penyimpangan sosial.  Kehadirannya di tengah - tengah masyarakat akan sangat meresahkan dan mencederai  nilai sosial dan tatanan kemasyarakat. Sendi – sendi kehidupan masyarakat akan goyah dan rapuh. Nilai dan norma yang merupakan acuan dan panduan hidup bermasyarakat menjadi tumpul. Kehidupan sosial lumpuh dan tak berdaya.

Akar Penyebab Kenakalan
Secara sosiologis, perilaku – perilaku menyimpang diatas dikenal dengan istilah deviation yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang ada di dalam kehidupan suatu masyarakat. Sedangkan pelaku penyimpangan ini baik individu maupun kelompok disebut deviant.
Dalam pandangan ahli sosiologi, sebab – sebab yang menjadi akar perilaku menyimpang ini ada banyak ragam sudut pandangnya. Ada teori yang mencoba menjelaskan penyimpangan pada interaksi sosial,  dan ada yang berupaya menggali sumber - sumber penyimpangan pada struktur sosial. Bahkah Cesare Lombrosso, seorang kriminolog Italia, menyatakan bahwa akar persoalan perilaku – perilaku tertentu seseorang dikarenakan faktor biologis. Dari ciri – ciri fisik seseorang yang merupakan bawaan sejak lahir sudah bisa diketahui kelak dikemudian hari seseorang tersebut akan berprilaku apa. Teori ini diuraikan dalam bukunya tentang ‘si penjahat sejak lahir.’
Berdasarkan teori pergaulan berbeda (differential association theory) yang diutarakan oleh Edwin H. Sunterland diketahui bahwa penyimpangan bersumber dari pergaulan dengan sekelompok orang yang telah menyimpang.  Penyimpangan diperoleh melalui proses alih budaya (cultural transmission). Melalui proses ini, seseorang mempelajari suatu subkebudayaan menyimpang (deviant subculture).
Berbeda dengan Edwin H. Sunterland, Edwin M. Lemert menegaskan dalam teori label (labelling theory) bahwa seseorang menjadi menyimpang karena proses labelling yang diberikan masyarakat. Maksudnya ialah pemberian julukan, cap, label, merk yang negatif kepada seseorang. Mula – mula seseorang melakukan penyimpangan yang oleh Lemert di namakan penyimpangan primer (primary deviation). Akibatnya, si pelaku lalu dicap sesuai dengan perbuatan menyimpangnya, misalnya, sebagai pencuri, penipu, pemerkosa, orang gila, dan sebagainya. Sebagai tanggapan terhadap julukan atau cap ini, si pelaku penyimpangan primer kemudian mengidentifikasi dirinya sebagai penyimpang dan melakukannya secara berulang kali sehingga perbuatan tersebut menjadi penyimpangan sekunder (secondary deviation). Dan akhirnya, orang tersebut akan menganut suatu gaya hidup menyimpang, serta akan menjadi suatu kebiasaan.
Robert K. Merton menguraikan penyebab penyimpangan melalui struktur sosial. menurutnya, struktur sosial bukan hanya menghasilkan perilaku konformis yang sesuai dengan norma dan nilai sosial tetapi juga menghasilkan perilaku yang tidak mengindahkan norma sosial. Artinya, struktur sosial juga memproduksi pelanggaran terhadap aturan sosial. Dalam struktur sosial terdapat tujuan dan kepentingan. Tujuan tersebut hal – hal yang dianggap pantas dan baik. Selain itu, diatur cara – cara meraih tujuan tersebut. Cara – cara buruk, seperti menipu, merampok, seks di luar nikah dan sebangsanya  tidak dibenarkan karena berada diluar aturan dan cara yang telah ditetapkan. Dan selanjutnya, struktur sosial menghasilkan tekanan ke arah anomie yaitu suatu situasi tanpa kaedah. Situasi demikian dapat menimbulkan sikap mental negatif seperti hal yang terjadi diatas.
  Disamping pemikiran beberapa tokoh sosiologi diatas, pada dasarnya, proses pembentukan perilaku menyimpang secara umum sesungguhnya merupakan hasil proses sosialisasi (belajar) yang tidak sempurna. Proses sosialisasi dianggap tidak berhasil jika individu tidak mampu menginternalisasi nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Orang – orang ini memiliki perasaan tidak bersalah atau menyesal setelah melakukan pelanggaran.

Menimbang Peran keluarga, sekolah, dan media
Meretas persoalan – persoalan diatas memang tak mudah. Namun bila ada upaya, bukan mustahil untuk meminimalisir penyakit sosial ini menjangkiti anak – anak di sekitar kita. Mestinya persoalan kenakalan diatas dapat teruraikan dengan baik, andai saja agen – agen sosialisasi seperti keluarga, sekolah, dan media massa berjalan seiring memberikan pendidikan, tontonan, dan contoh keteladanan yang dapat menanamkan serta menumbuhkembangkan nilai – nilai positif bagi perkembangan kepribadian anak – anak dan remaja kita. Sayangnya, realitas menunjukkan lain, sungguh jauh panggang dari api.
Pemberitaan massif tentang seks, perkelahian, perampokan, dan kehidupan hedonistik  yang mengumbar nafsuh menjadi bumbu penyedap hampir seluruh media. Media massa dengan vulgar serta dengan segala variannya, utamanya TV, dan internet yang mudah dijangkau anak - anak melalui berbagai alat eloktronik seperti mobile phone lihai sekali menggoda dan menggedor iman pemirsanya. Dan anak – anak yang masih labil secara spikologis dan biologis tersebut gampang terbujuk, terjerembab, rebah dalam gemerlap nafsuh kebendaan. Demi gengsi dan aksi tanpa memfilter dengan mudah meniru segala aksi bejat yang diperolehnya dari bangku televisi dan kongkow – kongkow hasil chatting dan browsing. Media massa menjadi alat yang canggih mengiring anak – anak keluar jauh dari pakem dan kebiasaan nila dan norma di lingkungan masyarakat sekitarnya. Berharap merubah media menjadi sekedar katalis pembawa informasi dan pengembang cakrawala berfikir semata dan sebagai pilar penegak demokrasi adalah ironi yang impossible to be. Media memiliki tujuan dan memilih tuannya sendiri.
Di lingkungan keluarga, persoalan domistik keluarga entah sengaja atau tidak mendera anak. Persoalan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, disharmoni keluarga; pertengkaran dan pertentangan antar orang tua atau orang tua versus anak akan sangat melukai jiwa anak. Anak – anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang akan gugup, minder, dan sulit melakukan interaksi dalam ranah sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, fungsi keluarga sebagai media awal dan terdepan dalam membina, mendidik, melatih, dan membiasakan  semua kecakapan sosial yang dibutuhkan anak, harus benar- benar menjelma dalam setiap rumah kita, karena kepada lembaga inilah kita dapat berharap menemukan jalan lapang pencegahan sekaligus penyelesaian persoalan kenakalan diatas, disamping lembaga pendidikan.
Sekolah dengan segala kealfaan dan kekurangannya masih dapat dijadikan lembaga pembinaan mental dan spiritual calon generasi masa depan yang gemilang. Apalagi bila kedua lembaga kemasyarakatan ini (baca sekolah dan keluarga) mampu bersinergi dengan baik, insya Allah akan mengikis penyakit – penyakit sosial yang mengincar anak – anak dan remaja kita. Bagaimana menurut anda? Sekali lagi jawabnya, jangan serahkan kepada rumput yang bergoyang! Wallahu a’lam.


Minggu, 05 Maret 2017

CERITA : 'TELLAT'

Seorang teman guru berkata,”aku dikomplin siswa. Katanya, mengapa ibu memperbolehkan si A, yang terlambat masuk kelas. Padalah minggu lalu, ibu tegas tidak mengijinkan siswa tellat masuk kelas. Mengapa sekarang lain?.”
“menurut bapak, salahkah saya ini?.” Tanya dia padaku.
Aku cukup lama tak  menjawab pertanyaannya itu. Karena aku sebenarnya tak mau acuh. Urusan tellat masuk kelas jam pertama atau jam lain tak ada yang risau. Malah, secara berseloroh beberapa sejawat sudah apatis dengan keterlambatan model beginian ini. Tak disini atau disana  sama saja. Ini bukan tindakan indisipliner, yang melanggar aturan, norma, dan menjelekkan martabat bangsa yang patut untuk ditindak tegas.
“pak, gimana. Tidak salah perilaku saya ini, ya?.” Harapnya dengan penuh sungguh – sungguh.
“tidak bu. Sampean ini melebih – lebihkan saja. Coba lihat yang lain. sama sajakan. Mungkin ibu saja yang sensi dengan godaan siswa. Jangan mudah terpancing emosi, lho bu. Biasa aja. Ok. Tidak sedang lambat bulankan. Lagian inikan masih tanggal muda ” Timpal saya sekenanya.
“bapak ini gimana, sih. Aku tanya sungguhan, pak. Malah diginiin. Wah...wah....” dengan sedikit muka merah dia menggeleng – geleng kepala dan beranjak pergi meninggalkanku sendiri yang merasa bersalah ngomen dan benggong menyaksikan reaksinya.

“Menurut anda bagaimana?”

Selasa, 14 Februari 2017

EDISI ANTING - ANTING YANG HILANG




Sekitar jam 12, siang itu, Saat semua sibuk menyiapkan menu kedai “Neng Ais” untuk bazaar Ramadan H 11. Najwa, anak ke 3 kami, adiknya si Ais, umur 2,8 tahun, mendatangi kita di dapur.
“Habij, habij, habij nih,” katanya sambil memegangi teliganya.
“Apanya, ning. Apanya, ning?” Tanya Emma. Dengan berlimpah kasih, diambil cucu bungsunya itu lalu direbahkan disimpuhannya.
“Nih…. nih… nih.” Putri kecilku yang lucu itu, menunjuk -  nunjuk dan melintir -  lintir telinga kanannya.
“aaah… kemana antingnya, kok dak ada.” Seru mertuaku itu.
Semua kesibukan terhenti sebentar mendengar seruan itu. Semuanya tertuju pada si kecil. Kuhampiri si bungsu itu. Kurangkul, kugendong dan kucium-ciumi pipi cute nya hingga dia geli, menggeliat, tertawa-tawa. Gemmes. Dia dah tenang.
” Habis dimana, dik. Dimana, cayang” Selidikku. memancing ujarannya. Mencoba merunut peristiwa kemungkinan tempat anting itu jatuh
“dicana, di main. Acu main dicana. Pas… pass habij.” Tangannya yang lentik menunjuk-nunjuk. Aku ditarik, ditunjukkan semua tempat dimana dia bermain. Hingga bosan atau lelah menderanya. Lalu mengajaknya bobo siang.

“Ah…… Alhamdulillah, dah bobo.” Syukur kupanjatkan pada-Mu. Yaa… Robb.